03 April 2014

Fatamorgana

Setelah dijalani semakin jauh
Semuanya terasa semu
Tidak pernah beranjak dari sini
Sekuat tenaga bertahan, entah sampai kapan
Hidup di dalam benteng yang membelenggu
Tak pernah berani untuk keluar
Namun juga tak mampu bertahan sendiri disini
Ketika semua yang bersifat materi hanyalah sebuah fatamorgana
Selalu tampak semu dan tak pernah nyata
Nampak namun tak terlihat
Bersuara namun tak terdengar
Begitu dekat namun tak pernah terasa

Keberadaan yang tidak pernah ada
Sesuatu yang harus diungkapkan memang sebaiknya diungkapkan
Sesuatu yang harus dilakukan memang sebaiknya dilakukan
Tapi kenyataannya banyak hal yang tidak dapat terungkap dan tak mampu dilakukan
Waktu terus berjalan secara linier dari awal mula penciptaan hingga datang kehancuran
Tak pernah bersimpati untuk menunggu pelakon yang kebingungan mencari arah dan pijakan
Tersesat dan menghabiskan banyak waktu untuk mencari jalan keluar hingga tiba masa kebinasaan
Keniscayaan memang akan selalu ada, namun hanya untuk mereka yang mau berusaha

Tinggalah kita memilih untuk binasa atau mewujudkan keniscayaan itu
Semua datang dan pergi tanpa menungguku memahami semua itu
Berlalu begitu saja tanpa menghiraukanku yang memohon untuk tinggal sejenak disini
Untuk memahami apa yang sedang terjadi dalam hidupku

Begitu banyak makna yang tak terungkap karna kata yang tak terucap

Duniaku

Lagi-lagi terdampar di sini
Di dunia yang dulu aku ciptakan sendiri
Mungkin nyaman pada  awalnya untuk berada di sini
Tanpa ada yang mengganggu
Tanpa ada yang mengusik

Tapi berulang kali harus terus mengungsi ke sini membuat aku bosan juga
Karena tak ada siapa pun di sini selain aku
Muak rasanya melihat benda-benda di sini yang hanya bisa menatapku dengan bisu seribu bahasa
Tapi hanya mereka yang sabar tanpa komentar menyambut ku
Di saat aku ingin menarik diri sejenak dari peran yang sudah lama aku lakoni

10/10/11

20:21

Gersang



Bagaikan gurun pasir tandus yang merindukan oase
Bagaikan tanah gersang yang menanti turunnya hujan
Aku mencari setetes air yang menyegarkan, kunanti…
Penyegaran yang meluluhkan segala lara dan galau

Setiap malam, tak sabar ku menunggu datangnya pagi
Berharap menemukan embun pada rumput-rumput hijau
Namun, tak setetespun aku temukan
Hatiku gersang Tuhan

Asa dalam harapku hanyalah sebuah rindu yang tak dapat disua
Cita yang terpatri masih menanti untuk aku kejar, sedangkan,
Semangatku untuk berlari masih menunggu ku kobarkan
Tapi aku lelah
Aku butuh energi untuk melakukan itu semua
Aku penat
Aku butuh air yang menyegarkan
Air mengalir yang menghanyutkan kerikil penghalang dan menghantarkan kesegaran


21:03

Jannati, 26/04/10

TITIK

TITIK

            Banyak orang yang tinggal di sini, di sebuah titik yang tidak pernah ingin mereka tinggalkan. Entah mengapa mereka ada di situ sementara mungkin orang lain pun sibuk di titik-titik tempat mereka berdiri. Aku pun tidak pernah beranjak dari sini, setidaknya hingga saat ini. Stagnan. Pikiran dalam diri yang selalu mempetak-petakkan masing-masing diri untuk membentengi hati. Terdiam disini, aku menjadi teringat akan penggalan puisi yang sempat aku tulis beberapa waktu yang lalu.

“Duniaku adalah benteng yang tak terjamah
Tak ada yang tahu keberadaannya
Tak ada yang ingin tahu sesuatu yang ada dibaliknya
Tak akan ada yang mengerti kehidupan didalamnya.”

            Mungkin itu adalah pembahasaan atas apa yang terjadi dalam diri. Frustasi akan semua yang terjadi. Begitu pesimistis. Jika mereka tidak mengerti, aku pun demikian. Aku tidak pernah mengerti pembicaraan orang-orang yang selalu riuh mengoceh ditengah banyaknya ocehan yang memekakkan telinga. Aku tak pernah mengerti apa yang ada  dalam pikiran mereka. Pemikiran yang hanya bisa membuat aku pusing. Semua ini terjadi karena itu terlahir dari  prasangka-prasangka yang selalu muncul di permukaan saat fakta menyeruak dan menutupi fakta-fakta tersirat.
            Tapi setidaknya aku beruntung masih memiliki duniaku, meski tak ada satu orang pun yang tahu. Aku masih bisa merasakan kebebasan disana. Kebebasan untuk mengekspresikan diri dan berkreasi di alam fantasi yang aku ciptakan sendiri di tengah belenggu yang ada di sekelilingku.
            Aku merasa sudah saatnya kita berbicara dengan lantang untuk meruntuhkan segala prasangka yang selama ini mengikat kita pada pemikiran masing-masing. Memberitakan kepada semua orang tentang diri kita. Jangan biarkan mereka untuk terus memakan daging saudaranya sendiri karena ketidak tahuan mereka. Tapi apa yang harus dibicarakan? Hati ini pun kembali melontarkan pertanyaan konyol namun tetap sulit untuk dijawab karena telah begitu banyak suara-suara yang telah dibuat hening dan segala hasrat yang dipenjarakan oleh aturan-aturan manusia yang tak mampu menata. Semuanya hanya bisa bercokol dalam hati dan membusuk menjadi penyakit. Menorehkan titik-titik hitam yang kian hari kian bertambah.
            Di bawah langit kelam yang menghalangi munculnya bintang-bintang bercahaya terang ditambah terpaan angin yang menambah perih luka di batinku dan menghempaskan aku pada titik ini, biarkan aku dan pikiranku terbang melayang. Mengenang kembali peristiwa-peristiwa yang telah membuat aku dan orang-orang di sekelilingku sampai ke titik ini.
            Jika pada zaman sebelum revolusi mau pun reformasi, para kaula muda saat itu dengan gigih memperjuangkan hak mereka untuk bersuara telah berhasil membuat kita yang sekarang dapat  dengan leluasa menyuarakan aspirasi kita meski pun terkadang hanya sekedar mengungkapkan kata-kata tak bermakna yang hanya membuat orang-orang resah, kini kita hanya bisa menodai hasil perjuangan mereka dengan kebobrokan mental kita. Apakah kata-kata tanpa makna yang terlontar dari mulut-mulut kaum yang kata orang-orang adalah kaum berpendidikan seperti sekarang adalah suara yang diharapkan para senior-senior kita? Aku rasa jawabannya tidak. Seharusnya lontaran kata-kata itu menjadi suara perjuangan dan pembelaan atas kaum-kaum yang terinjak, kaum-kaum yang terjepit di antara kubu-kubu yang saling serang karena dibutakan oleh kekuasaan. Golongan yang memperjuangkan eksistensi bangsa ini pun bukan lagi untuk kesejahteraan bangsa namun untuk merauk keuntungan  pribadi. Sungguh sayang, para senior-seniorku tidak dapat merasakan buah dari hasil perjuangan mereka. Mereka bagaikan petani yang menanam begitu banyak tanaman di ladang luas, namun dengan rela memberikan buahnya kepada orang-orang bodoh yang hanya mampu menikmati buahnya dan mengenyangkan perut sendiri.
            Jika kita menarik lagi lebih jauh sejarah kita, pada zaman perjuangan kemerdekaan, para pemuda bangsa ini bersatu hati menghendaki persatuan, kini di tangan kita persatuan itu hanya menjadi sebuah klise hitam yang tidak dapat di cetak menjadi gambaran indah yang penuh warna dan kegembiraan.
Tanah air kita yang dulu subur dan membuat setiap orang nyaman berpijak di atasnya, kini menjadi penuh dengan lumpur kotor yang menjijikkan.
Bangsa kita yang dulu begitu disegani dan gagah berdiri di muka, kini harus menanggung malu seperti pecundang yang mundur dari medan perang dan hanya bisa bersembunyi dibalik tembok dan mengintip lewat jendela, menonton kemajuan dunia yang begitu pesat. Seperti bebek yang tidak bisa terbang mengepakkan sayapnya meski ia memiliki sayap layaknya burung-burung yang senantiasa melanglang buana di langit. Ia hanya bisa mengekor.
Bahasa yang menjadi aset bangsa ini pun mulai terancam eksistensinya. Ketika sekarang anak bangsa akan lebih merasa bangga ketika mereka mampu berbahasa asing dengan lancar sedangkan ia akan tertidur lelap di kelas-kelas mereka dan merasa jemu dengan pembahasan sastra dan bahasa bangsa ini.Tidak banyak lagi orang-orang yang mampu berkomunikasi dengan bahasa yang baik. Kata-kata yang terlontar dari mulut mereka hanyalah kata-kata yang terdengar begitu sentimentil, pesimistis bahkan bahasa hanyalah komponen dalam kalimat-kalimat yang digunakan sebagai alat untuk menorehkan luka.
            Untaian cerita-cerita pesimistis ini harus segera diakhiri. Bukan untuk suatu kebinasaan. Namun untuk kembali memulai cerita baru yang lebih indah. Cerita yang akan mengobati lara dan menyembuhkan luka. Memperbaiki segala kesalahan dan mengembalikan segala ketidak sesuaian pada tempatnya. Berbenah diri untuk menyongsong masa-masa kejayaan yang akan menjelang bukanlah suatu kemustahilan, melainkan sebuah keniscayaan.
Dalam cerita akan ada kalimat-kalimat yang diakhiri oleh titik. Bukan berarti cerita itu telah usai. Melainkan sang penulis hendak memulai menuliskan kembali cerita-cerita lain yang lebih berwarna. Seperti saat ini, baru saja aku memutuskan untuk mengakhiri mengenang sejarah dan mengingat betapa payahnya generasi yang sedang memimpin sekarang di tengah gelap gulitanya malam, muncul setitik cahaya terang di hadapanku yang semakin lama titik itu semakin besar dan terang. Mentari. Sosok yang selalu menyapa kita di pagi hari. Menandakan akan adanya harapan di hari ini dan seterusnya.



Bogor, 9 Oktober 2011

Today, I will post some typewritings that I type years ago...hehehe...
Since Recently, I don't write actively ( but now, I try to start writing again.. Please look forward for it )
Actually, this days I have many task to do, about my work, my study and my social activity, but I don't now why, because something that still absurd but stuck my mind, I think I can't do anything well right now.
And I decide to do something that can I do without use my brain and my mind...
With only spent a short time (without my brain...hehehehehe) I hope can share positive things with everyone who visit my blog...